Epidemiologist

Epidemiologist
Epidemiologists help with study design, collection and statistical analysis of data, and interpretation and dissemination of results (including peer review and occasional systematic review). Epidemiology has helped develop methodology used in clinical research, public health studies and, to a lesser extent, basic research in the biological sciences

Senin, 09 Desember 2013

Conditional economic incentives for reducing HIV risk behaviors: integration of psychology and behavioral economics

Conditional economic incentives for reducing HIV risk behaviors: integration of psychology and behavioral economics.

Source

Department of Behavioral and Social Sciences, Brown University, Providence, RI 02906, USA. Don_Operario@brown.edu

Abstract

OBJECTIVE:

This article reviews psychology and behavioral economic approaches to HIV prevention, and examines the integration and application of these approaches in conditional economic incentive (CEI) programs for reducing HIV risk behavior.

METHODS:

We discuss the history of HIV prevention approaches, highlighting the important insights and limitations of psychological theories. We provide an overview of the theoretical tenets of behavioral economics that are relevant to HIV prevention, and utilize CEIs as an illustrative example of how traditional psychological theories and behavioral economics can be combined into new approaches for HIV prevention.

RESULTS:

Behavioral economic interventions can complement psychological frameworks for reducing HIV risk by introducing unique theoretical understandings about the conditions under which risky decisions are amenable to intervention. Findings from illustrative CEI programs show mixed but generally promising effects of economic interventions on HIV and sexually transmitted infection (STI) prevalence, HIV testing, HIV medication adherence, and drug use.

CONCLUSIONS:

CEI programs can complement psychological interventions for HIV prevention and behavioral risk reduction. To maximize program effectiveness, CEI programs must be designed according to contextual and population-specific factors that may determine intervention applicability and success.
PsycINFO Database Record (c) 2013 APA, all rights reserved.

Epidemiology

 

Epidemiology is the study of the distribution and determinants of health-related states or events in specified populations, and the application of this study to the control of health problems. There are other definitions, but this is one we like. Three Greek word roots make up the word epidemiology -- epi, demos, and logos. Epi means upon, on or over. Demos means people or populace. And logos can mean study, word, discourse, count, tell, say, or speak. Therefore epidemiology is also the study of what is upon the people, discourse about what is upon the people, or counting what is upon the people.

The practice of epidemiology can also be viewed as a community health problem solving process. The epidemiological process parallels the steps in processes familiar to health professions, like the diagnostic process, the nursing process, the scientific process and the quality improvement process, especially if one sees the target process outcome as improving the health of specified populations vs. an individual. Consider these cyclical processes (albeit oversimplified) with different names but similar steps.
 
The Problem Solving Process:
Identify the problem and possible contributing factors
Make a list of solutions and choose one
Implement the solution
See if it worked

The Diagnostic Process:
List the symptoms
Perform a physical examination; order tests
Identify possible diagnoses and choose one (sometimes more than one)
Implement a treatment
See if it worked

The Nursing Process:
Assess
Diagnose
Evaluate
Plan
Implement

The Scientific Process:
Identify a question that needs an answer
Pose a hypothesis; a guess (with some thought behind it) about why or how something occurs
Design a study method; collect data/information
Analyze the data; test the hypothesis
See if it will work again

The Quality Improvement Cycle:
Identify a problem/issue
Collect data/information; analyze the data
Determine a desired outcome or result (benchmark)
Design interventions to achieve the result
Collect data again
See if it worked

Public Health Intervention:
Identify a condition (with possible positive or negative consequences) that you want to either change or reinforce
Collect data and analyze data
Determine a desired outcome or result
List appropriate interventions; make a selection
Implement the program
Collect data again
See if it worked

Surveillance:
Identify what and who you want to watch and/or monitor
Determine where and how to collect data
Analyze the data
Create a report and disseminate the information


Thinking through the similarities of the steps outlined in the processes above and how epidemiology is a combination of both Public Health Intervention and Surveillance, it also makes sense to define epidemiology as a community health problem solving process. The USET Tribal Epidemiology Center is here to assist the Nashville Area AI/AN communities cycle through their community health problem solving processes. Please give us a call!


Minggu, 08 Desember 2013

BEBERAPA PENYEBAB BAYI LAHIR CACAT

BEBERAPA PENYEBAB BAYI LAHIR CACAT

Seperti apakah bentuk cacat yang dialami oleh bayi?
  1. Cacat anggota badan, jantung dan saraf tulang belakang merupakan bentuk cacat yang paling banyak dialami oleh bayi yang lahir dengan kondisi cacat.
  2. Cacat pada organ kaki dan tangan, hal ini termasuk kekurangan jumlah jari atau kelebihan jumlah jari, kaki kurang panjang, dan kelainan posisi kaki dan tangan.
  3. Cacat pada organ jantung, cacat jantung umumnya adalah kondisi dimana di jantung terdapat lubang. Hal ini mungkin tidak semua terdeteksi saat lahir.
  4. Masalah bayi cacat berikutnya adalah cacat pada sum-sum tulang belakang.
  5. Cacat lain yang bisa diketahui langsung adalah yang mempengaruhi wajah (seperti bibir sumbing dan bentuk hidung tidak sempurna), masalah dengan perkembangan usus dan perut, dan masalah yang mempengaruhi organ-organ seksual.
  6. Down Syndrom, permasalahan seperti ini adalah yang terjadi pada mental dan kecerdasan anak.
Lalu apa saja yang menjadi penyebab bayi cacat tersebut jika si wanita tidak mengalami gangguan kehamilan dan kegagalan janin? Berikut penjelasannya:
1. Faktor Genetika. Pada zaman kuno, kelainan yang terjadi pada bayi yang lahir dipandang sebagai peringatan atau hukuman dari para dewa. Bahkan baru-baru ini, diyakini bahwa peristiwa tertentu selama kehamilan – seperti yang ketakutan yang berlebihan terhadap tikus- akan mengakibatkan cacat pada bayi, misalnya tanda lahir berbentuk tikus. Kepercayaan rakyat tersebut masih bertahan di tempat-tempat tertentu.
Namun, secara ilmiah membuktikan bahwa salah satu penyebab bayi lahir dalam keadaan cacat adalah faktor genetik. Ini tidak berarti bahwa orang tua dari bayi juga memiliki cacat yang sama dengan bayi tersebut. Bisa saja salah satu dari orang tua bayi adalah pembawa gen cacat tertentu. Oleh sebab itu sebelum memilih pasangan ada baiknya Anda melihat riwayat kecacatan yang ada dalam keluarga calon pasangan Anda. Dari 100 kecacatan yang terjadi pada bayi, 25 kasus diantaranya disebabkan oleh masalah genetika.
2. Faktor Lingkungan (termasuk obat-obatan, radiasi, rokok, alkohol, dan penyakit) menjadi penyebab dari 10% kasus cacat lahir pada bayi. Selama masa kehamilan hindarilah berdekatan dengan zat-zat kimia, apalagi bagi Anda yang bekerja sebagai apoteker atau sejenisnya. Selain itu usahakan agar jangan terkena sinar matahari langsung terlalu sering.
3. Faktor Lain. Sampai saat ini belum diketahui apa faktor yang menjadi penyebab bayi lahir dalam keadaan cacat. Faktor lain memberikan kontrwanitasi sebesar 65% terhadap penyebab bayi lahir cacat.

BEBERAPA VIRUS PENYEBAB PENYAKIT KEHAMILAN

BEBERAPA VIRUS PENYEBAB PENYAKIT KEHAMILAN

Penyebab: Disebabkan oleh virus cytomegalo.
Akibat: Bila infeksi dialami oleh wanita hamil, maka bayi yang dikandung beresiko menderita pembesaran kepala, pengapuran otak, pembesaran hati, tuli, atau bentuk kaki dan tangan yang tidak normal.
Herpes Simpleks tipe II
Penyebab: Herpes terbagi atas 2 jenis, sedangkan yang berbahaya bagi wanita hamil adalah jenis Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Infeksi ini menyerang alat kelamin. Tanda dari seseorang terinfeksi penyakit ini adalah keputihan atau muncul bintik pada alat kelamin.
Penularan: Penularannya adalah melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan penderita lain. Bisa juga ditularkan melalui hubungan seksual.
Akibat: Bayi yang dilahirkan dari wanita yang terinfeksi penyakit ini dapat menderita kelainan pada kulit, yaitu kulit melepuh.

14 Gangguan Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

14 Gangguan Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Gangguan kehamilan dapat terjadi kapan saja. Bisa pada saat kehamilan muda, atau pada masa kehamilan mulai menua, selain juga pada saat-saat menjelang persalinan. Setiap masa dalam kehamilan memiliki jenis gangguannya sendiri-sendiri.
Jenis gangguan kehamilan beragam, dari yang ringan sampai yang berat. Semua jenis gangguan kehamilan dapat diatasi. Beberapa di antaranya sebetulnya sudah dapat dicegah. Upaya pencegahan dapat dilakukan selama pemeriksaan kehamilan rutin. Sekurang-kurangnya, ada 14 jenis gangguan kehamilan yang mungkin timbul dan perlu diwaspadai. Apa saja?
1. Muntah-muntahNormal jika mual dan muntah berlangsung dalam triwulan pertama kehamilan. Namun, jika muntah-muntah terjadi berlebihan sampai 7 kali dalam sehari, kondisi ibu menjadi lemah, tidak berselera makan, berat badan menurun, dan nyeri ulu hati. Keadaan demikian tidak boleh dibiarkan. Mintalah bantuan bidan atau dokter. Kemungkinan ibu hamil sedang mengidap penyakit berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Kekurangan makanan dan cairan perlu dikoreksi dengan pemberian cairan infus. Jika tidak dikoreksi, buruk pengaruhnya terhadap anak di kandungan maupun pada diri ibu sendiri.
2. Kehamilan lewat 5 bulan, tak merasa ada gerakan janinJika betul itu dialami, kemungkinan anak sudah mati dalam kandungan. Dokter dan bidan perlu segera memastikannya. Jika dari pemeriksaan tidak terdengar lagi bunyi jantung anak, berarti anak memang sudah mati. Bayi mati dalam kandungan harus segera dikeluarkan. Jika tidak dikeluarkan, dapat mengganggu ibu. Bayi mati di kandungan lama-lama akan mengering, dan perut ibu semakin susut mengecil. Ibu harus curiga bayi sudah mati dalam kandungan jika perutnya semakin hari semakin mengempis.
3. Berat badan naik berlebihanWaspadalah jika berat badan ibu hamil naik lebih dari 1 kg dalam seminggu, terkadang disertai tungkai dan mata kaki yang membengkak, tekanan darah meninggi, air seni keruh, nyeri kepala, dan penglihatan berkunang-kunang. Kemungkinan itu merupakan gejala dan tanda pre-eclampsia, yang jika dibiarkan akan masuk ke dalam eclampsia, penyakit yang mengancam nyawa ibu maupun anak jika tidak segera ditanggulangi.
4. Gangguan ginjalIbu hamil juga dapat menderita gangguan ginjal. Sering demam-demam, air seni keruh, tekanan darah mungkin meninggi, sering mual-mual (lagi), atau sampai muntah-muntah, nyeri kepala, dan mungkin tidak enak di pinggang. Gangguan ginjal pada ibu hamil perlu segera diobati. Mungkin perlu perawatan rumah sakit.
5. Sering berdebar-debar, sesak napas, dan lekas lelahWaspadalah jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus, dan kian hari kian bertambah berat. Jika tadinya keluhan itu muncul hanya pada saat melakukan aktivitas fisik, namun sekarang tidak melakukan aktivitas fisik pun sudah berdebar dan sesak napas, kemungkinan ada gangguan jantung dalam kehamilan (vitium cordis). Ibu dengan kondisi begini memerlukan perawatan khusus di rumah sakit, dan pertolongan khusus pula sewaktu persalinan.
6. AnemiaJika wajah pucat-pasi, merah mata dan telapak tangan pucat, lekas lelah, lemah, dan lesu, kemungkian ibu hamil menderita kurang darah (anemia). Sel-sel darah merah kekurangan unsur hemoglobin. Pada ibu hamil, anemia sering disebabkan oleh kekurangan zat besi. Anemia yang berat bisa mengganggu jantung juga. Keluhan sering berdebar pada pasien anemia kemungkinan karena sudah sampai stadium membebani jantung.
Anemia kekurangan zat besi mudah diatasi dengan pemberian tambahan pil zat besi (sulfas ferosus), atau tablet penambah zat besi lainnya. Anemia dalam kehamilan berefek buruk pada kehamilan, selain juga berefek buruk pada janin yang dikandung. Pasokan zat asam janin kurang dari normal. Gangguan plasenta dan perdarahan pasca-persalinan sering terjadi pada ibu hamil yang anemia.
7. Gangguan kelenjar gondokJika kelopak mata sembab menonjol, tapi bukan sakit mata, jemari gemetar, sering berdebar-debar walau tidak habis melakukan aktivitas fisik, badan terasa lebih panas (gerah) dari biasa, dan banyak berkeringat, kemungkinan ini gejala aktivitas kelenjar gondok di batang leher berlebihan (hyperthyroid).
Kelenjar gondok tidak harus membengkak seperti pada penyakit gondok endemik akibat kekurangan iodium, namun fungsi gondoknya saja yang berlebihan, sehingga menimbulkan keluhan dan gejala seperti di atas itu. Agar tidak sampai mengganggu kehamilan, maupun janin yang dikandung, gangguan kelenjar gondok pun perlu diatasi.
8. Kencing manisIbu hamil dicurigai kencing manis jika bertubuh gemuk, berasal dari keluarga dengan riwayat kencing manis, mengeluh sering haus terus, banyak berkemih, dan merasa lapar terus. Ibu hamil dengan kencing manis akan melahirkan anak yang lebih besar dari normal. Seberapa bisa, kencing manis ibu hamil terkontrol agar tidak berpengaruh buruk terhadap anak yang dikandung. Pertolongan khusus perlu diberikan untuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang kencing manis.
9. Ibu hamil dengan infeksiIbu hamil dengan demam tinggi dan berlangsung lebih dari 3 hari harus dipikirkan kemungkinan terjadi infeksi. Apa pun penyebab infeksinya, tidak menyehatkan bagi janin yang dikandung. Dokter perlu memeriksa kalau-kalau infeksinya berefek buruk terhadap anak.
10. Kejang-kejangIbu hamil dengan kejang-kejang tidak boleh dianggap enteng. Kejang-kejang sendiri bisa disebabkan oleh infeksi selaput otak (meningitis), atau pada otak sendiri (encephalitis). Namun, paling sering disebabkan oleh penyakit eclampsia seperti sudah dibahas di atas. Jangan tunda pergi ke dokter, sebab setiap kejang-kejang harus dianggap keadaan yang serius.
11. Keluar darah dan lendir dari liang rahimKeluar darah dari liang rahim pada masa kehamilan kurang dari 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan terjadi keguguran. Ancaman keguguran yang masih awal dapat dibendung dengan perawatan khusus, agar janin selamat sampai cukup bulan. Namun akan gagal mempertahankan kehamilan jika perdarahan telanjur banyak dan berlebihan.
Keluar darah pada kehamilan yang lebih tua, kemungkinan ada gangguan pada air-ari. Keluar darah dapat disertai rasa nyeri mulas melilit di perut bawah, bisa juga tidak. Keluarnya darah dengan rasa nyeri disertai keluarnya lendir, apalagi jika sampai keluar air ketuban (menyerupai air seni), tergolong keadaan gawat darurat kehamilan. Ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit, mencegah seberapa mungkin dalam 24 jam kehamilan masih dapat dipertahankan.
12. Kehamilan tergangguJika pada kehamilan muda (6-10 minggu) atau kurang dari dua setengah bulan keluar perdarahan dari liang rahim, disertai nyeri, mulas melilit di perut bawah, selain kemungkinan keguguran, dapat juga sebab kehamilan yang terganggu (KET atau Kehamilan Ektopik Terganggu).
Normalnya, kehamilan tumbuh di dalam rongga rahim. Namun, tidak demikian dengan kehamilan yang tersasar ke tempat tumbuh yang lain. Kehamilan di luar rahim disebut kehamilan ektopik (ectopic pregnancy), yang dapat terjadi di saluran telur, indung telur, atau di mana saja di luar rahim. Kehamilan di luar rahim dapat saja selamat sampai kehamilan cukup bulan, namun lebih sering mengalami gangguan. Jika kehamilan yang tersasar sampai terganggu, terpaksa anak harus dikeluarkan kendati belum cukup bulan.
13. Keluar darah setelah kehamilan 28 mingguJika keluar darah setelah kehamilan 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan ada gangguan pada ari-ari. Kalau bukan luruhnya ari-ari dari perlekatannya pada dinding rahim (solutio placentae), kemungkinan lain adalah mengelupasnya sebagian tepi ari-ari dari dinding rahim lantaran lokasi perlekatannya berada di sekitar mulut rahim (placentae praevia). Keduanya tergolong gawat darurat yang memerlukan pertolongan rumah sakit segera.
14. Keluar cairan ketubanKetuban atau bungkus bayi dalam kandungan tidak boleh pecah sebelum tiba waktunya persalinan. Jika sampai pecah, berarti cairan ketuban akan tumpah keluar dari liang rahim, dan anak yang seharusnya terlindung steril di dalamnya terancam bahaya tercemar oleh bibit penyakit dari dunia luar. Keadaan ini disebut Ketuban Pecah Dini (KPD), yakni keluar cairan menyerupai air seni tapi tak berbau pesing, sebelum merasa mulas-mulas tanda awal persalinan.
Adakalanya, cairan ketuban tidak bening lagi, melainkan sudah kehijau-hijauan, tanda sudah terinfeksi kuman dari luar. Infeksi cairan ketuban mengancam janin yang terbungkus di dalamnya. Ini pun tergolong gawat darurat. Janin perlu diselamatkan agar tidak sampai menderita infeksi di dalam kandungan ibunya

Pre-Eklamsia

Pre-Eklamsia adalah kondisi umum yang terjadi saat wanita hamil, ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kadungan protein dalam urin yang meningkat. Wanita hamil dengan pre-eklamsi juga sering ditandai dengan pembengkakan kaki dan tangan. Biasanya terjadi pada awal tri semerter ketiga kehamilan, meskipun bisa juga datang sebelum itu.
Apa Itu Eklamsia?
Eklamsia, adalah tahap akhir atau tahap paling parah dari pre-eklamsia yang tidak diobati. Selain gejala seperti yang telah disebutkan, penderita eklamsia dapat terkena kejang-kejang, koma bahkan kematian bagi ibu dan bayi.
Penyebab Pre Eklamsi
Penyebab pasti pre eklamsia dan klamsia tidak diketahui secara pasti, meskipun beberapa peneliti menduga kurangnya gizi,lemak tubuh yang tingggi atau kurangnya aliran darah pada rahim.
Paling sering pre-eklamsia terjadi pada pertama kali kehamilan dan kehamilan pada wanita diatasn 40 tahun. Selain itu ada beberapa faktok pendukung lainnya.
  • Punya riwayat menderita tekanan darah tinggi sebelum kehamilan.
  • Sebelumnya punya sejarah preeklamsia
  • Ada riwayat pre eklamsia pada ibu atau saudara.
  • Obesitas sebelum kehamilan.
  • Bayi kembar.
  • Sejarah diabetes , penyakit ginjal , lupus atau rheumatoid arthritis.
Tanda-tanda pre-eklamsia?
Selain bengkak pada kaki dan tangan serta kandungan protein pada urine yang tinggi, gejala pre eklamsia meliputi
  • Peningkatan berat badan secara signifikan, karena terjadi penumpukan cairan dalam tubuh.
  • Sakit Perut.
  • Sakit kepala yang parah.
  • Perubahan reflek.
  • Jumla urine berkurang bahkan tidak kencing.
  • Ada darah dalam urine.
  • Muntah dan mula yang berlebihan.
Apakah jika terjadi pembengkakan itu artinya saya menderita pre eklamsi?
Pembengkakan adalah normal dalam kehamilan, namun jika pembengkakan tidak bisa hilang setelah beberapa hari istirahat dan ada gejala seperti diatas, maka sebaiknya segera lah ke dokter.
Apa pengaruhnya pada bayi saya?
Preeklamsi dapat mencegah / mengurangi pasokan darah melalui plasenta dan bisa menyebabkan bayi anda berukuran kecil. Ini adalah salah satu penyebab utama kelahiran prematur, kesulitan belajar, epilepsi, cerebral palsy , serta masalah pendengaran dan penglihatan.
Apa Komplikasi Pre-eklamsia Dan Eklamsia?
Preeklamsia mengurangi jumlah aliran darah ke plasenta dan janin. Oleh karena itu bisa menyebabkan pelambatan perkembangan janin, berat badan saat kelahiran rendah dan sering dijumpai pula kelahiran premature. Oligohidramnion ( penurunan jumlah cairan ketuban ) juga menjadi resiko lain dari pre-eklamsia. Preeklamsia juga meningkatkan resiko pemisahan antara plasenta dan diding rahim. Bila parah, kodisi ini bisa menyebabkan pendarahan yang mengancam jiwa ibu dan janin.
Preeklampsia berat dapat mempengaruhi fungsi hati dan ginjal. Sindrom HELLP, yang merupakan singkatan dari Hemolysis (kerusakan sel darah merah), Elevated liver enzymes, and Low Platelets jarang terjadi pada penderita pre-eklamsia. Gejala dari sindrom HELLP adalah sakit kepala, mual dan muntah serta sakit perut pada daerah kanan atas. Dalam beberapa kasus, sindrom HELLP terjadi sebelum tanda-tanda khas preeklampsia yang jelas. Komplikasi umum lainnya preeklampsia dan eklampsia termasuk penurunan aliran darah ke otak, yang menghasilkan stroke.
Dapatkah preeklampsia dan eklampsia dapat dicegah?
Hingga tulisan ini dibuat, tidak ada cara pasti untuk mencegah preeklamsia, namun perawatan yang cepat, tepat dan pemeriksaan kehamilan yang rutin punya peran sangat penting bagi penderita preeklamsia.
Bagaimana prognosis untuk preeklampsia dan eklampsia?
Kebanyakan wanita dengan preeklamsia ringan berahir dengan baik dan bahagia. Eklampsia merupakan kondisi serius dari preeklamsi, tingkat kematian sekitar 2% dari seluruh kasus.
Risiko kekambuhan preeklampsia bervariasi sesuai dengan onset dan keparahan kondisi. Wanita dengan preeklamsia berat yang memiliki onset kondisi awal kehamilan memiliki risiko kekambuhan tertinggi. Studi menunjukkan tingkat kekambuhan 25% sampai 65% untuk populasi ini. Hanya 5% sampai 7% dari wanita dengan preeklamsia ringan akan memiliki preeklamsia pada kehamilan berikutnya.
Wanita dengan preeklamsia mungkin pada peningkatan risiko untuk penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Risiko ini terbesar pada wanita dengan onset awal preeklamsia berat. Saat ini sedang berlangsung penelitan khusus mengenai resiko ini.
Apa obat pre eklamsia dan eklamsia?
Satu-satunya obat yang paling efektif untuk pre eklamsi adalah kelahiran bayi itu sendiri.
Preeklampsia ringan (tekanan darah lebih dari 140/90) yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang tidak memiliki hipertensi sebelumnya, dan / atau memiliki sejumlah kecil protein dalam urin dapat membatasi aktivitasnya.
Pengobatan lain meliputi:
  • Magnesium dapat disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk mencegah eklampsia berhubungan dengan kejang .
  • Hydralazine atau lain obat antihipertensi untuk mengatur tekanan darah.
  • Pemantauan asupan cairan.

Sumber: http://www.medicinenet.com/pregnancy_preeclampsia_and_eclampsia/article.htm


Kamis, 05 Desember 2013

Stata

Stata adalah software untuk keperluan statistik yang dibuat oleh StataCorp. Stata
digunakan oleh banyak perusahaan dan lembaga akademis di seluruh dunia,
termasuk di bidang kesehatan. Stata memiliki kemampuan yang lengkap meliputi
manajemen data, analisis statistik, grafis, simulasi dll
Menu bar merupakan daftar menu di stata untuk dapat memilih apa yang akan
dilakukan di stata
1. File : membuka file baik file data, do-file maupun log-file, menyimpan data,
membuka jendela penampil (viewer), menjalankan do-file,
memberi/mengubah nama file, membuat/menghentikan/menambah log-file,
melakukan import data, melakukan export data, mencetak file (print)
2. Edit: melakukan copy, paste, melakukan pencarian (find), mengubah
tampilan Stata (preference)
3. Data: mendeskripsikan data, memunculkan dataset, mengedit dataset,
memunculkan variabel manager, mengubah utilitas data.
4. graphics: menu untuk membuat grafik
5. statistics: menu untuk melakukan analisis deksriptif dan analitik
6. user: menampilkan data, grafik dan statistik
7. window: menampilkan jendela-jendela kerja
8. help: mencari bantuan.
PERINTAH STATA
Terdapat dua cara dalam menjalankan perintah stata, yaitu dengan syntaks dan
menu pull down. Cara yang akan kita bahas dalam modul ini sebagian besar
menggunakan syntaks.
1. Syntaks
Syntaks merupakan perintah/command yang dituliskan pada jendela command.
Cara ini akan lebih banyak kita gunakan dalam mengolah dan mengalisis data di
stata. Karena cara ini lebih mudah digunakan jika kita sudah terbiasa
menggunakan stata. Anda tidak perlu menghafalkan syntaks, secara
otomatis jika Anda sering menggunakan stata Anda akan hafal dengan
sendirinya, dan bila lupa Anda bisa mencarinya melalui help, yang penting
adalah paham format logika syntaks.
Format syntaks stata secara umum adalah:
Command adalah input perintah yang harus ada pada setiap kali memberikan
perintah pada Stata, perintah pada stata selalu menggunakan huruf kecil
(lowercase), pada perintah tertentu, perintah dapat disingkat dengan hanya
memasukan 3 digit pertama dari perintah, misalnya perintah describe yang
dapat disingkat hanya memasukan perintah des, tetapi perlu diingat
bahwa tidak semua perintah pada Stata dapat disingkat.
Namavariabel adalah nilai yang diberikan untuk perintah yang dapat berupa
variable dari dataset yang aktif, variable lainnya yang bertipe string atau
numerik.
“If kondisi” adalah formula atau rumus yang dapat dikostumisasi sesuai
kebutuhan yang memberikan batasan pada perintah yang akan dijalankan,
“if kondisi” pada semuacommand bersifat opsional dan tidak semua
command dapat ditambahkan “if kondisi”.
“in” adalah kondisi yang mengacu pada observasi, misalnya “in 1” artinya
pada obervasi 1, “in 1/5” mengacu pada obervasi nomor 1 sampai nomor 5.
Opsi pada perintah stata selalu berada setelah tanda koma “,”, sama seperti

command, beberapa opsi pada beberapa command juga dapat disingkat